KORLANTAS POLRI, Ponorogo – Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Operasi Keselamatan Semeru 2026 di Kota Reog, Ponorogo. Personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Ponorogo tak melulu melakukan penindakan, tetapi juga mengedepankan pendekatan humanis kepada masyarakat.
Dalam rangkaian Operasi Keselamatan Semeru 2026, petugas membagikan helm dan cokelat kepada anak-anak yang berangkat ke sekolah dengan sepeda motor namun tidak mengenakan pelindung kepala. Aksi simpatik tersebut digelar di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di depan Pasar Legi, Rabu pagi (11/2/2026).
Kasatlantas Polres Ponorogo AKP Dewo Wishnu Setya Kusuma mengatakan pembagian helm dan cokelat merupakan bentuk apresiasi sekaligus edukasi kepada pengendara agar lebih memperhatikan keselamatan anak saat berkendara.
“Pembagian helm dan cokelat ini sebagai bentuk apresiasi kami kepada pengendara karena sudah banyak yang patuh. Namun terkadang masih lupa memberikan helm kepada anak ketika mengantarkan ke sekolah,” kata AKP Dewo.
AKP Dewo menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pendekatan humanis dalam Operasi Keselamatan Semeru 2026 yang berlangsung sejak 2 hingga 15 Februari 2026. Operasi ini mengedepankan langkah preemtif dan preventif guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya keselamatan berlalu lintas.
Menurutnya, meski mengedepankan pendekatan persuasif, penindakan tetap dilakukan terhadap pelanggaran berisiko tinggi yang berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Penindakan juga menyasar pelajar dengan rentang usia 16 hingga 19 tahun sebagai upaya memberikan efek jera dan meningkatkan disiplin di jalan.
Lihat juga: Bukan Sekadar Tilang! Begini Cara Satlantas Polres Ponorogo Tekan Angka Laka di Kalangan Remaja
“Operasi Keselamatan Semeru 2026 berjalan kondusif. Operasi ini mengedepankan langkah preemtif, preventif, dan represif apabila ditemukan pelanggaran sesuai target operasi,” ujarnya.
AKP Dewo mengungkapkan, pelanggaran yang kerap ditemukan di lapangan antara lain kendaraan dengan pajak mati serta pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm. Dari data yang dihimpun, sebanyak 58 pelanggaran dilakukan oleh pelajar sehingga perhatian khusus diberikan kepada kelompok usia tersebut.
“Karena banyak pelanggaran dilakukan oleh pelajar, maka fokus kami juga ke pelajar. Tidak hanya dilakukan penilangan, tetapi juga imbauan dan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Jika ditemukan pelanggaran, tentu akan ditindak sesuai aturan,” ungkapnya.
Sosialisasi ke sekolah dilakukan untuk menanamkan kesadaran tertib berlalu lintas sejak dini dengan harapan dapat menekan angka kecelakaan di kalangan remaja.
Melalui pembagian helm, cokelat, serta edukasi langsung kepada masyarakat, Operasi Keselamatan Semeru 2026 diharapkan mampu membangun budaya berlalu lintas yang lebih aman dan tertib di wilayah Kabupaten Ponorogo.

