Home Headlines Podcast dengan Korlantas Polri, Youtuber Den Dimas: Gaya Boleh, Keselamatan dan Empati Wajib

Podcast dengan Korlantas Polri, Youtuber Den Dimas: Gaya Boleh, Keselamatan dan Empati Wajib

0 comments

KORLANTAS POLRI, Jakarta – Dunia modifikasi dan gaya berkendara kerap diidentikkan dengan kata “keren”. Namun bagi youtuber otomotif Den Dimas, ada garis tegas yang tak boleh dilanggar, keselamatan dan empati terhadap pengguna jalan lain.

Fenomena penggunaan lampu tambahan pada sepeda motor semakin marak, baik untuk kebutuhan touring maupun sekadar tampilan. Namun, Den Dimas mengingatkan bahwa fungsi penerangan tidak boleh berubah menjadi sumber bahaya.

Hal ini dikatakan Den Dimas kepada anggota Korlantas Polri Brigadir Rizka saat menjadi bintang tamu di Podcast NTMC Korlantas Polri berjudul “DEN DIMAS Buka-Bukaan Sama POLANTAS Pengakuan DOSA ‼ Ini Kata POLISI”.

“Batasan antara keren dan membahayakan mungkin membahayakan batasannya itu sampai merepotkan orang lain, misalkan kita pakai lampu tambahan yang memang kita pakai untuk penerangan tambahan, tapi saat lampu dipakai ditengah kota dan membuat silau menurut saya batasannya disitu karena silau jadi bahaya. Kita harus punya rasa empati,” ujar youtuber otomotif Den Dimas dalam podcast dengan Korlantas Polri baru-baru ini.

Menurutnya, empati menjadi kata kunci. Modifikasi yang baik bukan hanya memikirkan kepuasan pribadi, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan bersama.

Lihat juga: Blak-blakan Youtuber Den Dimas ke Polisi Soal Modifikasi Motor Ala Gen Z

Selain soal modifikasi, Den Dimas juga menyoroti perilaku pengendara di jalan, salah satunya kebiasaan merokok saat berkendara. Ia menyebut, tindakan tersebut sebagai contoh nyata yang dapat merugikan orang lain.

“Resiko nyata di jalan, ini mungkin contoh dari merepotkan orang lain, misalkan merokok di jalan. Karena ada beberapa kejadian terkena mata. Jadi memang posisi dimana ketika kita mengendari tanpa modif kita harus berempati. Kalau boleh saran, berhenti dulu saja saat merokok,” tambah Den dimas.

Dalam tren modifikasi tertentu, spion kerap dilepas atau diganti dengan model kecil tanpa kaca yang memadai, demi mengejar tampilan minimalis. Spion bukan sekadar pelengkap visual, melainkan kebutuhan wajib. Tanpa spion, pengendara akan kesulitan melihat ke arah belakang, sehingga dapat meningkatkan risiko kecelakaan saat berpindah jalur atau berbelok.

“Banyak spion yang dipasang tidak ada kacanya. Motor tanpa spion tidak bisa melihat kebelakang, karena dapat membahayakan, walaupun tidak suka dengan standarnya bisa diganti, tetapi harus ada agar sama-sama aman dan selamat,” pungkas Den Dimas.

Dari lampu tambahan, kebiasaan merokok, hingga penggunaan spion, Den Dimas menekankan pentingnya empati di jalan raya. Baginya, modifikasi dan gaya berkendara sah selama tidak “merepotkan orang lain

You may also like

Leave a Comment

KORPS LALU LINTAS POLRI

Jl. Letjen M.T. Haryono Kav. 37-38, Jakarta Selatan 12770

© 2026 – MEDIA CENTER KORLANTAS POLRI

INFORMASI KONTRIBUTOR

Informasi mengenai kegiatan satuan di wilayah, lalu lintas, maupun kecelakaan dapat dikirimkan melalui email ke redaksintmc@gmail.com

NTMC SCREEN ×