KORLANTAS POLRI, Jakarta – Dunia otomotif Tanah Air terus bergerak dinamis, tidak hanya dari sisi industri, tetapi juga dari perkembangan komunitas dan para content creator. Salah satu figur yang konsisten membagikan perspektifnya adalah content creator otomotif Den Dimas, yang memiliki akun Instagram dengan nama @buburayamracer. Dari pengalaman riding lintas negara hingga fenomena modifikasi “proper style” di kalangan Gen Z, Den Dimas memotret perubahan kultur motor yang kian beragam.
Menurut Den Dimas, pengalaman berkendara di luar negeri memberikan sudut pandang baru tentang budaya berkendara. Ia menilai, secara regulasi sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Indonesia, namun atmosfernya terasa unik.
Hal ini dikatakan Den Dimas kepada anggota Polantas Korlantas Polri Brigadir Rizka saat menjadi bintang tamu di Podcast NTMC Korlantas Polri berjudul “DEN DIMAS Buka-Bukaan Sama POLANTAS Pengakuan DOSA ‼ Ini Kata POLISI”.
“Riding di luar negeri menyenangkan ada experience yang berbeda, kalau menurut saya peraturannya mirip-mirip saja tetapi ada beberapa yang berbeda,” ujar content creator otomotif Den Dimas dalam podcast dengan Korlantas Polri baru-baru ini.
Menurutnya, perbedaan bukan semata soal aturan, melainkan kultur berlalu lintas, kedisiplinan pengendara, hingga karakter jalan. Hal-hal tersebut menjadi pengalaman wawasan komunitas sepeda motor.
Nama “BuburAyamRacer” yang melekat pada Den Dimas bukan tanpa cerita. Den Dimas mengungkapkan bahwa ide tersebut lahir dari kebiasaan anak motor saat Sunday Morning Ride (sunmori) yang berburu sarapan.
“Jadi kalau anak motor sunmori sukanya riding dari satu tempat sarapan ke sarapan yang lain, bisanya di sini nyari sarapan entah bubur, mie ayam, gado-gado, jadi kepikiran namanya bubur ayam karena kita pergi ke satu bubur ayam ke yang lainnya,” tambah Den Dimas.
Lihat juga: Youtuber Otomotif Ini Beberkan Tips Berkendara demi Keselamatan di Jalan Raya
Fenomena sunmori memang telah menjadi bagian dari gaya hidup komunitas roda dua. Riding santai di pagi hari, diselingi sarapan bersama, bukan hanya soal motor, tetapi juga soal kebersamaan. Dalam pandangan Den Dimas, dunia modifikasi motor memiliki spektrum yang sangat luas dari kebutuhan fungsional hingga ajang kontes.
“Kalau di dunia modifikasi, ada yang memang modif karena dia ga puasa sama motornya, sampai memang yang suka banget ikut kompetisi kontes jadi motornya didandanin,” lanjutnya.
Seiring perkembangan zaman, tren modifikasi pun mengalami pergeseran. Jika sebelumnya gaya ekstrem seperti Thailand style dengan ban kecil sempat mendominasi, kini muncul gaya yang lebih fungsional yaitu proper style.
“Memang sekarang genre modifikasi banyak, ada kaya Thailand, ada Vietnam, memang sekarang ini lagi ada teman-teman anak motor dandanin gaya proper, proper nih bukan cuma secara arti harafiah benar, tapi memang sudah menjadi gaya sekarang. Proper itu kalau sekarang gayanya yang bisa dipakai harian,” jelasnya.
Gaya proper menekankan keseimbangan antara estetika dan fungsi. Ukuran ban tetap normal, motor nyaman digunakan harian, bahkan tetap andal untuk touring luar kota. Pergeseran selera di kalangan generasi muda, menurutnya, Gen Z cenderung menyukai modifikasi yang tidak berlebihan, namun tetap menarik secara visual.
“Modifannya tidak harus mahal, yang penting enak dilihat, warnannya serasi itu gaya anak proper. Anak gen Z sekarang suka gaya proper dan gaya yang memang bisa di pakai harian dan dipakai nongkrong keren,” pungkas Den Dimas.
Dari pengalaman riding lintas negara hingga tren proper style, Den Dimas menunjukkan bahwa dunia otomotif bukan hanya soal mesin dan kecepatan. Ia adalah ruang ekspresi, identitas, dan komunitas.

