KORLANTAS POLRI, Jakarta – Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol Raden Slamet Santoso mengungkapkan bahwa dalam Operasi Keselamatan 2025, Polri mengedepankan tiga langkah strategis utama: preemtif, pencegahan, dan penegakan hukum.
“Dalam operasi keselamatan ini, kami memfokuskan 40% pada kegiatan preemtif, 40% pada pencegahan, dan 20% pada penegakan hukum. Untuk penegakan hukum, kami akan lebih mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis,” ujar Brigjen Slamet di Yogjakarta.
Brigjen Slamet menjelaskan bahwa Polri akan memanfaatkan teknologi untuk mendukung penegakan hukum, khususnya dengan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Dengan lebih dari 1.700 unit ETLE yang terpasang, baik itu ETLE statis, handheld, portable, maupun mobile, Polri berharap dapat menindak pelanggaran kasat mata seperti overdimensi, overloading, serta pelanggaran lainnya yang membahayakan keselamatan di jalan.
“ETLE ini akan membantu meningkatkan efektivitas penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas. Teknologi ini juga menjadi alat edukasi yang efektif agar masyarakat lebih disiplin,” tambahnya.
Selain penegakan hukum, operasi keselamatan juga menitikberatkan pada upaya pencegahan, termasuk melakukan survei terhadap kondisi jalan dan pengawasan terhadap perilaku pengemudi. Polri juga akan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mematuhi aturan lalu lintas, seperti penggunaan helm, sabuk pengaman, dan mematuhi lampu merah.
“Pencegahan ini kami anggap sangat penting. Kami akan lebih banyak berfokus pada upaya preemtif, agar masyarakat lebih sadar dan tertib dalam berkendara,” ungkap Brigjen Slamet.
Operasi ini juga menjadi bagian dari persiapan Polri menghadapi Operasi Ketupat yang akan digelar menjelang libur Idul Fitri. Diharapkan dengan adanya sosialisasi, pelatihan, serta pengawalan yang intensif, arus mudik dan aktivitas di lokasi wisata dapat berjalan dengan aman dan lancar.
Lihat juga : https://www.youtube.com/watch?v=9-gldLicY-w

